Ada Apa Dengan Ketahanan Pangan Kita?

Indonesia Negara kaya penuh dengan kekayaan sumber daya alam, kekayaan hayati. Lautan membentang luas, hutan riuh asri, kebudayaan yang hirarki penuh dengan keragaman dan kuliner yang tak terhingga dan beda dengan Negara lainnya. Jajaran pulau ada dimana-mana, lebih dari Ribuan pulau mulai dari Sabang sampai Merauke, dari Rote sampai Mias berjajar pulau nan indah merajai. Kalau orang sunda bilang mah, “Sagala aya”, artinya segalanya ada. Yups benar memang di Indonesia segalanya ada, ga percaya coba tanyakan kepada mereka yang pernah ke luar Negeri apakah lebih lengkap dengan Indonesia yang ada di Negera yang dijumpai? Silakan cari sendiri yaaa.

Hari ini (Rabu, 24 Agustus 2011-red), kaget juga pas baca berita di Koran Pikiran Rakyat edisi Rabu, 24 Agustus 2011, masa Singkong aja mau di Impor dari Italia lah, dari mana kek. Ada apa dengan ketahanan pangan di Negeri ini? Apakah sudah berkurang atau malah turun drastis? Indonesia ini sebenarnya negara apa sich? IT, Agraris, Militer, atau ?

Kalau dirunut dari bentangan alam yang luas, rasanya tidak mungkin Indonesia tercinta ini bisa Impor bidang pertanian. Lahan masih luas, kekayaan alam bukan main banyaknya, tanah yang subur, SDM banyak, apa lagi yaa yang membuat ini dan itu lebih baik. Kebijakan pemerintah memang diperuntukan kebaikan untuk khalayak ramai tapi masa sich harus Impor terus, mau sampai kapan coba?

Lagi-lagi beras, katanya kemarin-kemarin udah Swasembada Beras tapi kenapa bisa Impor lagi? Belum lagi bawang juga di impor.. Hadoh geleng-geleng dah. Sebagai rakyat biasa sich ga mau tahu, yang penting mau makan nasi ada beras, mau makan ini dan itu ada tapi bagaimana seharusnya untuk bisa menanggulangi.

Ya, pemerintah memiliki peran yang besar bukan hanya soal ketahanan pangan, sektor pertanian seharusnya sudah kuat. Kita sudah merdeka 66 Tahun loch masa gitu aja belum bisa sampe sekarang. Mungkin harus ada yang diperbaiki dan ditingkatkan kualitas. Pangan tidak lepas dari Kementerian Pertanian yang membawahi bidang pertanian. Beberapa hal yang mungkin bersinggungan untuk peningkatan kualitas ketahanan pangan dan juga stok pangan yang ada diantaranya yaitu:

  1. Kebijakan yang memihak kepada para petani. Sebagus dan sebaik apapun kebijakan pemerintah namun tidak tepat sasaran bisa rugi apalagi tidak memihak kepada para petani yang terjun langsung dibidangnya. Pemerintah acap kali mengeluarkan kebijakan jangka pendek, misalnya main impor aja, kan masih ada yang lebih baik. Kebijakan inilah yang menjadi pangkal utama, betapa tidak sekeras apapun petani dan pengusaha sektor pertanian tapi tidak didukung pemerinta yang percuma saja toh. Kalau sudah begini mau bagaimana lagi dan apakah terus mengandalkan impor dan impor lagi?
  2. Sinergi antara Kementerian satu dengan lainnya, Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah. Benar, salah satu bentuk kesuksesan sebuah Negara yaitu mampu memperkokoh barisan terdepan. Pemerintah pusat dengan pemerintah daerah satu suara dan saling mendukung tentunya baik dalam segi kebijakan dan lain sebagainya, antara satu Kementerian dengan yang lainnya juga harus sejalan dan saling mendukung satu sama lain. Kalau pusat dan daerah sudah berbeda suara dan berbeda pandangan pastinya titik temu tidak akan tercapai. Kalau sudah begini bagaimana seharusnya. Kesadaran dan mempertangguhkan kerjasama dan kekompakan serta lainnya saling menopang bukan saling menyalahkan satu sama lain. Top Decision dalam hal ini bisa Presiden atau DPR mengawal dan memantau serta memutuskan kebijakan yang pro rakyat. Jangan pas mau pemilu dan kampanye semua bilang pro rakyat
  3. Tingkatkan Komoditi Sektor Pertanian. Ya, perluas sektor pertanian, buka lahan yang baik untuk bercocok tanam. Satukan daerah pada satu jenis komoditi sebagai ciri khas daerah masing2. Misalnya Jawa Barat di sektor Komoditas Beras seperti Karawang, Cianjur dan lain sebagainya. Begitu pula dengan daerah lainnya sehingga setiap daerah memiliki komoditas pangan yang baik dan dapat mengampu ketahanan pangan nasional bukan hanya daerahnya saja. Daerah lain juga harus punya ciri khas penghasilan atau keahlian masing-masing. Jika sudah terorganisir komoditas masing-masing niscaya Indonesia menjadi negara yang kaya dan sejahtera dan tidak ada lagi TKI yang mencari rezeki di luar negeri.
  4. Berdayakan Petani dan Pengusaha disektor pertanian. Jika pioner terdepan dan tulang tengah kuat masa yang belakang kalah. Hal ini bisa sejalan dengan visi ketahanan pangan. Berikan kesempatan petani dalam garda terdepan, berikan kebijakan yang pro petani. Pengusaha juga menjadi berhubungan karena pengusaha yang secara tidak langsung ke daerah muka. Baik itu pengusaha atau perusahaan yang terdiri dari Pemerintah maupun swasta sejalan dengan visi pemerintah dan program lainnya harus sejalan untuk kepentingan bersama.
  5. Berikan modal kepada Petani untuk memperlebarkan sayapnya. Kemudahan kredit untuk para petani jelas menguntungkan dan juga memudahkan petani untuk mengelola sektor pertaniannya.
  6. Berikan penyuluhan dan pengembangan kepada petani. Peningkatan kualitas petani dari segi kemampuan akan mendorong peningkatan kuantiatas hasilnya. Berikan pelatihan dan pengetahuan teknologi bidang pertanian kepada para petani sehingga kinerja dan hasilnya memuaskan. Daya beli dari Petani ke tengkulak atau pengepul distandarkan harganya, jangan pengempul membeli dengan harga murah sementara modal petani sangat besar sehingga kerugian pun pasti merajalela. BULOG dalam hal ini bisa memberi hasil pertanian dengan harga standar dan baik serta layak dengan yang dihasilkan.
  7. Keseimbangan Hulu dan Hilir. Artinya dari proses produksi hingga jadi suatu pangan harapnya mengedepankan kualitasnya. Hal ini jelas berpengaruh dengan pangsa pasar di luar sana. Tidak mungkin kan hasil yang tidak layak dijual kepasaran dan pengelolaan hasil yang kurang harus dibarengi dengan pengingkatan dan penggunaan yang tepat sasaran. Misalnya Petani Salak yang setiap panen terdapat salak yang busuk atau rusak bahkan cacat, tidak memungkinkan untuk dijual lalu bagaimana seharusnya. Sepertinya Salak bisa jadi bahan Bioetanol yang bisa menggantikan minyak tanah untuk produksi sehingga hasil yang busuk atau tidak layak tidak mubazir atau sia-sia. Kalau limbah industri bisa dimanfaatkan secara maksimal maka pengurangan bahan yang tidak terpakai bisa O persen dan kalau sudah begini pasti semua diuntukngkan.

Nah, bagaimana pemerintah memandangnya? Jelas bukan hanya janji dan omong kosong yang terus menerus namun juga realisasi yang sepadan bukan hanya harapan yang diberikan namun tidak satupun menjadi kenyataan. Lagi-lagi pihak minoritas dan rakyatlah yang dirugikan. Importir sich untung kalau terus adanya Impor tapi mau sampai kapan?

Bagaimana menjawab Ada Apa Ketahanan Pangan Kita?

Hendaknya semua elemen dan golong yang berada dibidangnya bekerjasama, Pemerintah tidak mengandalkan ini dan itu, petani dan pengusaha serta perusahaan juga bekerjasama.

Mudah-mudahan apa yang diamanahkan UU 1945 bisa terealisasi dan benar adanya untuk menuju masyarakat Indonesia sejahtera dan bebes kemiskinan dengan kekuatan pangan dan keterlibatan berbagai pihak bisa sejalan dengan benar adanya. Semoga bisa berkaca dari hal yang terbaik dan pengalaman yang lalu untuk kedepan yang lebih baik dan menjadi yang terbaik.

Salam,

Penulis; Bandung, Rabu 24 Agustus 2011

Rahman Faisal, S.S

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s