Antara Aku, Kau, Dan Dia Ada Apa Ya.

“Kami cuma sahabatan, kok. Enggak lebih,” jawab Farhan setiap kali Bianca melayangkan protes atas kedekatan kekasihnya dengan Maura, yang diakui sebagai sahabatnya. Menurut Bianca, protesnya terhadap sang kekasih, bukan dilatari cemburu buta. “Saya percaya dengan cinta Farhan, tapi kehadiran Maura di antara kami, terkadang membuat saya merasa tidak nyaman. Saya seperti alien ketika berada di antara mereka,” ucap Bianca.

Bianca bukan tipe pencemburu. Ia bahkan yakin seribu persen, hubungan yang langgeng terbangun karena adanya rasa saling percaya. Ia tidak mempermasalahkan teman-teman perempuan Farhan yang bertebaran di mana-mana. Tapi, pada Maura, entah kenapa, rasa tak nyaman muncul tanpa bisa dikendalikan.

Pada posisi yang sama, Anda mungkin akan merasakan dilema yang dihadapi Bianca. Itu membuat Anda serba salah. Menyuruh dia memilih antara sahabatnya dengan Anda, jelas bukan jalan keluar yang bijaksana. Belum tentu pula apa yang Anda “tuduhkan” terbukti kebenarannya. Lalu harus bagaimana? Mengabaikannya seolah tak terjadi apa-apa, Anda tak sanggup.

Untuk sementara, Anda mungkin hanya perlu mempertimbangkan kembali apakah sudah saatnya Anda menjatuhkan vonis mati. Anda perlu mendeteksi apakah kedekatan mereka masih berada di zona aman atau potensial membahayakan hubungan.

Coba cek apakah dia menunjukkan gejala seperti ini:
* Bila mereka teman sekantor, hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama, entah itu makan siang, ke klub, lounge atau ngopi di tempat-tempat yang tidak biasa. Bila mereka pergi bersama teman-teman kantor, mungkin Anda bisa maklum. Tapi ini hanya berdua. Hm, hati-hati saja karena sesuatu bisa terjadi tanpa mereka sadari.

* Sahabat kesayangannya tahu benar setiap inci persaoalan dalam hubungan Anda dan pasangan. (Bahkan rasanya ia lebih kenal Anda ketimbang Anda sendiri). Tak jarang, sahabatnya itu mengorek-ngorek permasalahan yang bukan urusannya. 

* Mengambil alih porsi Anda. Misal, memberi perhatian berlebih, menelepon tanpa kenal waktu dan tempat, atau mengatur-atur Si Dia. Yang paling menyebalkan, pertemuan kerap berantakan hanya karena Si Dia lebih mementingkan sahabatnya. 

* Si Dia kerap membicarakan sahabatnya di depan Anda dan membanding-bandingkan Anda dengan dia. Kalimat yang sering terlontar, “Nita enggak gitu, deh, dia paling tahu apa yang saya suka.”

* Sang sahabat suka memanas-manasi Anda bahwa hanya dialah yang paling tahu pasangan. Dengan bangganya dia menceritakan sejauh mana kedekatan mereka.

Nah, bila tiga poin di atas Anda alami, waktunya mengambil tindakan. Seperti apa? Ini contohnya:

Ajak Bertemu
Bila Si Dia sering menghabiskan watu bersama, katakan padanya Anda ingin bertemu dengan sahabatnya itu. Jika ia menolak, Anda sebaiknya waspada. Karena sebenarnya Si Dia takut bila memang terjadi sesuatu di antara mereka, intuisi Anda bisa membacanya.

Tidak Bertanya, Curiga Jadinya
Jangan buru-buru berburuk sangka melihat kedekatan mereka. Bahkan bila Anda memergoki mereka terlihat akrab sekalipun. Bila penasaran, tanyakan secara baik-baik, usahakan tidak bersikap seperti polisi yang menangkap maling jemuran. Bila Anda bertanya dengan diplomatis atau dalam nada seolah “bukan persoalan besar”, mungkin dia akan menjelaskan. Selama bicara, tatap mata dan bahasa tubuhnya, apakah Si Dia berkata jujur atau tidak.

Don’t Blame Her
Semarah apa pun, sepenasaran apa pun rasanya, sebaiknya jangan menjelek-jelekkan sahabatnya di hadapannya. Percaya deh, Anda tidak akan dibela olehnya. Malah sebaliknya. Persoalan ini kan, sebenarnya antara Anda dan Si Dia. Apa sih yang membuat hubungan Anda tidak nyaman? Apa yang membuat kepercayaan Anda padanya meluntur? Hal ini perlu dicari penyebab dan jalan keluarnya. Misalnya, karena komunikasi Anda dan pasangan yang macet. Poin itu yang perlu dibenahi.

Speak up
Bicarakan kegelisahan Anda padanya. Ketika Anda bicara, fokuslah pada permasalahan bagaimana persahabatan mereka mengganggu hubungan Anda dan pasangan. Katakan saja, “Saat kita sedang berdua, kamu malah asyik ngobrol di telepon dengan dia, saya kecewa lho, karena kita jadi tidak punya banyak waktu untuk bicara.” Kalau dia bertanya apakah Anda cemburu? Katakan dengan tegas, “Ya, saya cemburu.”

Manfaatkan Dia
Ketimbang memusuhi sahabatnya, lebih baik Anda berusaha menjadi temannya juga. Ambil segi positifnya, dengan begitu Anda punya kesempatan memata-matai, bukan? Anda juga bisa belajar mengenal sisi-sisi lain pasangan yang mungkin hanya bisa diungkap dalam sebuah hubungan pertemanan.

Minta Kepastian
Bukan maksud menyuruh memilih antara Anda dan sahabatnya. Tapi, tak ada salahnya meminta kepastian kelanjutan hubungan. Jika Si Dia mengatakan serius dengan jalinan kasih kalian, sebaiknya minta pasangan mewujudkan perkataannya itu, tidak hanya lip service untuk menyenangkan atau menenangkan Anda semata. Kepastian bisa didapat lewat pertunangan atau pernikahan.
Ika Nurul Syifaa

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s